Madrasah Multi Life Skill

Madrasah Multi Life Skill
(Sebuah Obsesi)

Di temui di rumahnya, tim editor sempat bincang-bincang dengan Pak Nanang (Nanang Muliyawan, S.Pd). Kami juga sempat melihat-lihat madrasah yang dibinanya serta menyaksikan kepadatan aktifitas siswa. Siapa bilang anak madrasah miskin keterampilan? Datanglah ke Madrasah Aliyah Al-Khoiriyah. Siswa-siswi di sana begitu akrab dengan dunia skill. Bahkan saking banyaknya jam yang diberikan untuk keterampilan ini, madrasah ini mirip laiknya sebuah Sekolah Menengah Kejuruan.

Ketika awal memasuki madrasah tersebut, setiap anak disodori angket. Dari sanalah minat dan bakat anak akan dikelompokkan. Apakah mereka masuk ke dalam kelompok keterampilan otomotif, tata busana, informatika dan multi media, atau keterampilan yang lain. “Tambahan keterampilan ini diberikan, karena kami menyadari banyaknya anak lulusan kami yang tak sanggup meneruska ke jenjang perguruan tinggi,” tukas Nanang Muliyawan, S.Pd. yang dulu aktif di YPP Al-Ittihad. Setelah menikah, dia ‘mengomandani’ MA Al-Khoiriyah di daerahnya, Putat Lor, Gondanglegi.

Lha, kalau mereka tak memilikik eterampilan lantas bagaimana mungkin bisa terjun langsung ke dunia kerja?!” tambahnya. ”Masyarakat di sekitar daerah ini, sebagian besar telah menjadi TKI dan TKW ke luar negeri. Sehingga ketrampilan-keterampilan itu merupakan bekal khusus yang dibutuhkan oleh para siswa di sini. Di sisil ain, para alumni yang telah lama terjun ke dunia kerja senantiasa memberikan laporan tentang peluang kerja yang ada. Informasi mereka itulah yang sering kali menjadi bahan pemikiran kami semua.” Ungkapnya.

Namun apapun kerasi dan inovasi yang telah diterapkannya, madrasah ini masih tetap mementingkan ciri khas keagamaannya. Untuk itulah, setiap siswa yang mendaftar ke madrasah tersebut, terlebih dahulu harus menjalani tes kemampuanm embaca dan menulis Al-Qur’an. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka terhadap al-Qur’an. Dengan mengetahui hal tersebut,tentu akan lebih mempermudah untuk melakukan pembinaan selanjutnya.

Sebelum memulai pembelajaran, semua siswa di madrasah ini diwajibkan untuk melakukan apel do’a bersama. Setelah itu mereka lantas masuk kelas masing-masing, untuk melaksanakan tadarus Al-Qur’an selama l0 menit. Bagi siswa yang tak memiliki wudlu’, mereka diperintahkan untuk segera mengambil air wudlu’ dahulu. “Ritual semacam ini merupakan upaya kami, agar para siswa bisa mengikuti setiap materi pelajaran dengan mudah dan Iancar.” Terang Nanang Muliyawan menjelaskan. “Aktualisasi nilai-nilai ajaran agama, adalah merupakan sumber kearifan bagi setiap tindakan.” tandasnya.

Selain kegiatan qira’atul Qur’an dan manajemen qalbu, mereka juga dibiasakan dengan aktivitas-aktivitas agama lainnya. Seperti kegiatan istighasah, yang dilakukan pada setiap hari Kamis. ”Kalau sekolah-sekolah lain mengadakan istighasah menjelang UNAS, kami melakukannya sepanjang tahun pelajaran,” tukasnya sambil tertawa lirih.

Menjelang pelaksanaan UNAS, tepatnya H- 15 hingga hari “H”, seluruh siswa kelas 3 dikarantinakan untuk persiapan. Bahkan untuk memacu semangat dan kemampuan mereka juga diberikan tambahan pelajaran di luar jam belajar terutama pengajaran keagamaan. Namunp enguasaan materi agama tetap jadi prioritas utamanya. Pendidikan agama merupakan fondasi yang sangat penting guna pembentukan insan yang utuh,” katanya.

Nanang Muliyawan, sebagai keluarga besar Al-Ittihad mengaku terobsesi untuk mendirikan madrasah multi keterampilan setelah studi banding ke sebuah sekolah di Jakarta. Dia berharap, ke depan, MA Al-Ittihad dapat mewujudkan obsesinya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: